KONI Pusat, PP.PERKI, dan VOI Tuntas Webinat tentang Kesehatan Jantung

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) bersama Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia  (PP.PERKI) dan dukungan media VOI telah tuntas menyelenggarakan seminar virtual atau webinar pada Hari Kamis tanggal 1 Juli 2021. Webinar yang membahas kesehatan jantung tersebut berjudul ‘Jantung Sehat Bagi Atlet & Pegiat Olahraga’. Tujuan kolaborasi ketiga lembaga tersebut adalah memberikan wawasan kepada masyarakat luas dalam rangka antisipasi serangan jantung yang mematikan.

Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman sampaikan terima kasih kepada jajaran pengurus PP.PERKI dan VOI. “Adanya webinar kali ini menjadi ajang sosialisasi dari PP.PERKI dalam rangka mengantisipasi kejadian serupa, sehingga nantinya tidak ada lagi atlet, pelaku olahraga dan masyarakat umum yang menjadi korban karena minimnya pengetahuan kesehatan jantung,” kata Ketua Umum KONI Pusat sambil mengingatkan beberapa kasus.

Kasus henti jantung terjadi pada gelandang Timnas Denmark Christian Eriksen saat bertanding melawan Timnas Finlandia pada Euro tanggal 12 Juni 2021. Bersyukur, Eriksen tertolong dengan penanganan yang baik sejak pertolongan pertama.

Kemudian Legenda Atlet Bulu Tangkis Indonesia, Markis Kido turut terkena serangan jantung saat bermain di Tangerang tanggal 14 Juni 2021 malam. Sayangnya peraih medali emas Olimpiade 2008 itu tidak tertolong dan menghembuskan nafas terakhir. Contoh lain terjadi pada mantan atlet sepak bola Indonesia Ricky Yakob yang terkena serangan jantung saat bermain sepak bola di lapangan Senayan pada 21 November 2020.

Ketua Umum PP.PERKI Dr.dr.Isman Isman Firdaus, SpJP (K), FIHA sampaikan bahwa kematian karena jantung mencapai 17 juta. “Jadi memang tinggi kematian akibat kardiovaskuler di seluruh dunia,” ujarnya dalam sambutan. “Setiap 90 detik ada 1 orang yang meninggal karena henti jantung,” jelas moderator Dr Yusra Pintaningrum, SpJP(K).

Narasumber pertama adalah Dr Vito Damay, SpJP(K), MKes, AIFO-K yang membahas Adaptasi Jantung pada Atlet. Salah satu yang menarik bahwa otot jantung membesar dapat berpengaruh kepada kesehatan jantung. “Muncul adaptasi dari otot-otot jantung pada atlet-atlet tertentu yang benar-benar olahraganya berat, rutin dan disiplin. Itu otot-ototnya menebal. Menebal ini memang seperti orang-orang latihan angkat beban, ototnya kecil (dalam prosesnya) lama-lama ototnya jadi besar. Otot jantung juga demikian,” jelas dokter yang juga mantan atlet anggar.

Dengan latihan yang keras atau ekstrem, otot jantung menjadi lebih tebal. Menurut Vito hal tersebut baik namun ada juga kasus yang mana justru membuat risiko Aritmia (detak jantung tidak normal) dan risiko henti jantung lebih tinggi.

Narasumber berikutnya, Dr Sunu Budi SpJP (K) , PhD menceritakan tentang wafatnya pemain sepak bola Marc Vivien-Foe yang wafat saat Confederation Cup Semifinal 2003. Sang dokter jelaskan bahwa pasca autopsi, Vivie-Foe meninggal karena hypertrophic cardiomyopathy (HCM) yakni kondisi otot jantung menjadi lebih tebal dari biasanya.

“Menjadi atlet dan pegiat olahraga bukan berarti imun terhadap penyakit jantung dan faktor risiko penyakit jantung koroner,” tegas Dr Sony Hilal Wicaksono, SpJP(K) yang merupakan salah satu narasumber.

Oleh karena itu setidaknya ada dua hal yang penting, pertama pertolongan pada korban serangan jantung dan kedua usulan terkait pemeriksaan fisik atlet. “Kami dari PERKI akan sharing bagaimana sebagai orang awam kita bisa menolong,” terang Dr Radityo Prakoso, SpJP(K).

Pertama menurutnya adalah memastikan lingkungan sekitar aman, menilai respons korban apakah masih merespons atau tidak. Kemudian mengaktifkan sistem emergency yakni minta bantuan pihak lain. “Minta pertolongan orang lain, sendirian tidak menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Selama menunggu pertolongan tenaga medis, tindakan yang dapat dilakukan adalah Chest Compression (kompresi nafas). Setelah itu harusnya melakukan jalur nafas korban. Namun tak direkomendasikan saat pandemi Covid-19. “Tetapi selama pandemi, tahap ini tidak dilakukan,” tegas Dr Radityo.

Kemudian hal penting kedua menjadi usulan PERKI kepada KONI Pusat. Hal tersebut disampaikan oleh narasumber terakhir, Dr Ade M Ambari, SpJP(K)  yang membahas tentang ‘Menjaga Jantung untuk Atlet dan Pegiat Olahraga’. Ia mengusulkan pemeriksaan fisik atlet. Sang dokter memandang penting Elektrokardiogram (EKG) atau  pemeriksaan mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung.

Ke depan, KONI Pusat, PP.PERKI dan VOI diharapkan dapat melanjutkan kerja sama yang bermanfaat.

Video webinar:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *