Dari Tradisional ke Profesional: Masa Depan Pacu Kuda Indonesia

Dunia olahraga berkuda Indonesia kembali menjadi sorotan, terbukti program talkshow “Bincang Olahraga” pada TVRI SPORT membahas olahraga yang sudah ratusan tahun ada di Tanah Air.
Ketua Harian Federasi Nasional PP Pordasi Pacu, Eddy Wijaya hadir sebagai narasumber “Bincang Olahraga” pada Jumat 27 Februari 2026.
Publik diajak untuk melihat lebih dekat strategi pengembangan olahraga berkuda Pacu di Indonesia, yakni olahraga berkuda paling tua di Nusantara dibandingkan Equestrian, berkuda memanah dan Polo.
Eddy Wijaya mengawali dengan identitas Kuda Pacu Indonesia (KPI), yang merupakan hasil persilangan yang terencana. Kuda-kuda yang berlaga di lintasan saat ini adalah keturunan thoroughbred, hasil perkawinan silang antara betina Inggris dengan pejantan tangguh asalArab, Barbary (Afrika Utara) dan Turki pada abad ke-17.
Untuk menyesuaikan dengan karakteristik lingkungan lokal, kuda-kuda tersebut kemudian dikawinkan dengan kuda asli Indonesia guna menciptakan performa yang maksimal di lintasan pacu nasional.
Konsistensi dalam menjaga kualitas genetik ini terbukti telah berlangsung selama puluhan tahun, di mana saat ini Indonesia tercatat telah memasuki generasi kesembilan pengembangan
kuda pacu.
Dalam diskusinya, Eddy juga menjelaskan bahwa sistem kompetisi pacuan kuda di Indonesia saat ini terbagi menjadi dua kategori utama, yakni pacu prestasi yang mengedepankan standar kompetensi ketat dari thoroughbred dan turunannya dengan kelas usia dan tinggi kuda, dan pacu tradisional yang bebas menggunakan kuda turunan thoroughbred ataupun kuda lokal murni dengan pembagian kelas berdasarkan tinggi kuda saja.
Federasi Nasional PP Pordasi Pacu bertekad memajukan olahraga Pacu Kuda untuk menghidupkan industri peternakan, ekonomi kerakyatan melalui UMKM dan pariwisata. Lihat saja antusias 120.000 penonton Pacu Kuda pada PON XXI yang dilangsungkan di Takengon, Aceh Tengah.


