Lari Trail Kian Diminati, Atlet dan Pelatih Bagikan Tips dan Pengalaman Berharga

Olahraga lari trail kini semakin diminati masyarakat. Selain menawarkan tantangan fisik, olahraga ini menghadirkan pengalaman unik menyatu dengan alam.

Pengurus Pusat Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP.ALTI) menghadirkan dua atlet putri pada program “Bincang Olahraga” TVRI Sport yang disiarkan secara langsung pada Rabu 4 Maret 2026, di Studio 5 Gedung Pusat Produksi Siaran (GPPS) TVRI.

Dua atlet lari trail, Yusmara Yuli dan Drg. Septiana Nia Swastika, hadir membagikan kisah perjalanan serta tips bagi masyarakat yang tertarik menekuni olahraga lari trail.

Indonesia yang kaya akan bentang alam pegunungan dan perairan dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan lari trail. Cabang olahraga ini pun terus berkembang, mulai dari komunitas hingga menjadi olahraga prestasi.

Lari trail sendiri memiliki perbedaan dengan lari pada umumnya, mulai dari medan yang digunakan seperti gunung dan hutan, ada elevasi serta kontur alam yang tidak rata hingga dapat dilakukan di pantai, dengan ekstremnya cuaca. Sehingga dalam lari trail sendiri yang ketahanan dan endurance menjadi salah satu poin penting.

Cerita Awal Bagi Pelari Trail dan Tantangan Yang Dihadapi

Yusmara Yuli menegaskan bahwa persiapan utama bagi pemula dalam lari trail adalah mental. Setelah itu, latihan dapat dimulai dari lari jalan raya (road), kemudian dilanjutkan ke medan perbukitan atau gunung.

“Untuk pemula, yang paling utama adalah mental. Karena saat lari trail kita bisa saja salah jalur, lelah, tertinggal, hingga menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem. Kita harus kuat secara mental dan bisa bertahan hingga keluar dari gunung dengan selamat. Setelah itu baru latihan fisik seperti lari di jalan dan mencoba medan perbukitan atau gunung,” ungkap Yusmara Yuli yang juga merupakan coach lari trail.

Tidak hanya hal tersebut, adanya elevasi dalam medan yang digunakan berpengaruh dengan kadar oksigen ditambah dengan cuaca yang dapat berubah dengan cepat, mengingat di dataran tinggi kadar oksigen cenderung lebih tipis, sehingga para atlet harus memanfaatkan oksigen tersebut secara efisien. Hal ini tentu menimbulkan dampak positif bagi daya tahan tubuh dan performa fisik.

“Risiko hipotermia di alam terbuka cukup tinggi. Cuaca bisa berubah kapan saja, sehingga wajib membawa perlindungan seperti thermal jacket,” tambahnya.

Dalam perjalanan kariernya, risiko cedera pun pernah dialami, termasuk patah tulang kaki yang sempat dirasakan Yusmara. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat dan kecintaannya terhadap lari trail. Baginya, olahraga ini mengajarkan banyak pelajaran hidup, terutama tentang kerendahan hati.

Pengalaman Pertandingan

Salah satu momen paling berkesan bagi Yusmara adalah saat mengikuti lomba di kawasan Gunung Bromo pada kilometer 70.

“Indonesia punya alam yang luar biasa indah. Hampir setiap momen saya selalu menikmati pemandangannya. Itu yang membuat energi saya kembali muncul dan rasa capek hilang,” ujarnya.


Sementara itu Drg. Septiana Nia Swastika mengawali hobinya dalam berlari sejak tahun 2016 dengan tujuan menurunkan berat badan. Dua tahun kemudian, ia beralih ke lari trail dan terus menekuninya hingga kini.

Kegiatan pertamanya adalah rute menantang di Gunung Semeru dan Gunung Rinjani dengan elevasi mencapai 3.600 mdpl. Selain itu Nia juga turut ambil bagian dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh-Sumatera Utara (Sumut) di Danau Toba pada kategori 80 kilometer.

“Lari trail memiliki potensi besar di Indonesia karena didukung kekayaan alam dan peluang sport tourism. Namun, atlet wajib menjaga lingkungan dengan membawa kembali sampah yang dibawa dan bisa juga melakukan kegiatan seperti penanaman pohon,” ujar Nia.

Ia juga telah mengikuti event internasional di Prancis dan Spanyol. Menurutnya, target Indonesia di level dunia saat ini adalah mampu finish dengan baik, sementara di tingkat Asia Tenggara peluang untuk menembus 10 besar masih terbuka.

Sebagai penutup, keduanya berharap lari trail di Indonesia semakin berkembang dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, sehingga tidak hanya melahirkan atlet berprestasi namun juga melahirkan generasi pecinta alam yang disiplin dan bertanggung jawab.

author avatar
Tasya Aulia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *