PSSI Berkolaborasi dengan French Football Federation (FFF) Gelar Women’s Football & Sports Management Workshop

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pengembangan sepak bola nasional, khususnya di sektor perempuan, melalui kolaborasi strategis bersama French Football Federation (FFF) dalam penyelenggaraan Women’s Football & Sports Management Workshop.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Ludovic Debru sebagai Head of International FFF, Steeve Cupaiolo CEO Silk Road Sports Consulting sekaligus Direktur FFF Academy Singapura & Indonesia. Turut hadir pula Vivin Cahyani selaku Exco PSSI dan Ketua Plt Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI), dan Ramadhana Wulandiani Dyani sebagai Fundraising dan Controller PSSI.

Rangkaian kegiatan diawali dengan coaching clinic yang diselenggarakan di Lapangan Sidolig, Bandung, pada 11–12 April 2026. Kegiatan ini melibatkan 60 pelatih perempuan dan diikuti oleh sekitar 400 peserta perempuan, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap pengembangan sepak bola wanita di Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen nyata, PSSI juga memberikan beasiswa kepelatihan lisensi FIFA kepada 73 penerima untuk level C License. Selain itu, PSSI menegaskan keterbukaannya bagi seluruh perempuan Indonesia yang ingin berkontribusi dalam memajukan sepak bola nasional. Selain itu, pada tahun 2017, lahir Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI).

“Kami membuka peluang yang sama bagi perempuan Indonesia yang ingin berperan dalam pengembangan sepak bola, tidak terbatas hanya di lingkup PSSI,” ujar Vivin Cahyani.

Ia juga menambahkan, “Fokus utama kami adalah memperkuat kapasitas administrasi, meluncurkan kampanye yang berdampak, membangun struktur liga yang berkelanjutan, serta menerapkan standar perizinan klub yang lebih kuat.”

Head of International FFF, Ludovic Debru, memaparkan bahwa kekuatan sepak bola Prancis terletak pada ekosistem yang terstruktur dan terintegrasi secara global. Ia menjelaskan bahwa pengembangan sepak bola tidak hanya bergantung pada federasi, tetapi juga melibatkan berbagai elemen seperti klub, sekolah, akademi privat, hingga aktivitas rekreasi.

Debru juga menyoroti dua perubahan besar dalam sejarah sepak bola Prancis pasca tahun 1995, yakni implementasi Bosman Rule (Aturan Bosman.

“Setelah Aturan Bosman keluar, yaitu sistem kontrak pemain yang memicu pertumbuhan pesat industri sepak bola. Hal ini berdampak pada perubahan struktur kompetisi dan dinamika pasar pemain secara signifikan.” tutup Debru.

Beberapa komponen kunci keberhasilan Prancis antara lain:
• Lebih dari 1.600 klub terdaftar resmi
• Peran pelatih yang aktif dalam membangun pola pikir pemain
• Identifikasi jalur elite yang jelas
• Rencana pengembangan nasional yang terstruktur

Sementara itu, Steeve Cupaiolo, CEO Silk Road Sports Consulting sekaligus Direktur FFF Academy Singapura & Indonesia, menjelaskan bahwa pendekatan di Asia, khususnya Singapura, memiliki karakteristik berbeda.

Tantangan utama di Singapura adalah minimnya kompetisi resmi dan sistem pencarian bakat (scouting) yang belum optimal.

“Selain tantangan tersebut, kesuksesan pemain menuju tim nasional, menurut saya, sangat ditentukan oleh akses ke akademi yang terstruktur.” tutup Steeve.

Pemberdayaan Sepak Bola Wanita Indonesia

Dari sisi nasional, Ramadhana Wulandiani Dyani selaku Fund Raising and Controller PSSI memaparkan data pemain, pelatihm wasit yang terdaftar:
• 3.511 pemain wanita terdaftar
• 95 pelatih wanita berlisensi
• 96 wasit berlisensi

Angka-angka tersebut jauh dibawah ekspektasi apabila melihat perkembangan sepak bola putra Indonesa.

Oleh karena itu, momentum pelaksanaan kegiatan ini yang bertepatan di bulan April juga tidak terlepas dari semangat peringatan Hari Kartini sebagai simbol pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Untuk memperkuat fondasi tersebut, PSSI menetapkan empat pilar utama:

  1. Good Governance, penguatan institusi, performa, serta keberlanjutan finansial
  2. Career Pathway, peluang karier yang terbuka karena tingkat kompetisi yang masih berkembang.
  3. Regular Competitions, kebutuhan akan kompetisi rutin sebagai pekerjaan rumah utama
  4. Communications, peningkatan eksposur media, storytelling, serta konsistensi branding

Workshop ini menjadi langkah konkret dalam membangun sinergi global untuk kemajuan sepak bola wanita Indonesia. Kolaborasi antara PSSI dan FFF tidak hanya menghadirkan transfer ilmu, tetapi juga membuka peluang transformasi sistem yang lebih berkelanjutan.

Dengan penguatan pada aspek tata kelola, pembinaan, serta komunikasi yang strategis, sepak bola wanita Indonesia diharapkan mampu melangkah lebih jauh dan kompetitif di kancah internasional.

author avatar
Dea Amanda Fitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *