Bukan Cuma Cetak Atlet, Kolaborasi KONI dan Densus Jadi Senjata Ampuh Lawan Paham Radikal!
Olahraga telah menempati peran strategis dalam kehidupan saat ini. Dahulu, kerap kali olahraga dikaitkan dengan kalimat penyair Romawi Juvenal, yakni Orandum est ut sit Mens sana in corpore sano yang artinya “Kita harus berdoa agar memiliki pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat”. Meski hal tersebut masih relevan, namun hal lebih besar juga terkait dengan olahraga.
Olahraga menjadi bagian dari Soft Power, budaya populer yang melibatkan daya tarik gaya hidup. Tentunya, olahraga merupakan gaya hidup yang positif karena memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh dan pikiran. Bahkan, olahraga mampu berkontribusi terhadap pembangunan karakter bangsa. Mereka yang berolahraga, cenderung akan disiplin, taat pada aturan, tak cepat puas dengan hasil, memiliki semangat persatuan dan sportivitas.
Sejalan dengan pembentukan karakter bangsa, menarik bila mengaitkan olahraga dengan gagasan George Orwell yakni olahraga internasional menjadi wujud perjuangan bangsa dan atlet yang mewakili atau menjadi representasi suatu bangsa. Hobsbawn menilai olahraga sangat kuat bila dikaitkan dengan menanamkan rasa kebangsaan karena mudah menciptakan rasa identitas nasional.
Menyasar pada penjaringan, penyaringan dan pembinaan atlet untuk mewakili Indonesia, upaya sosialisasi hingga pembinaan olahraga menjadi gaya hidup tersendiri. Semangat tersebut melandasi gagasan kolaborasi antara Bidang Media dan Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat di bawah Waketum VI Josef Adrianus Nae Soi dengan Detasemen Khusus 88 Anti Teror di NTT.
“KONI Pusat beserta anggotanya bertugas membina olahraga prestasi. Dalam Pelaksanaannya, olahraga menanamkan nilai-nilai yang baik untuk pembangunan karakter bangsa. Melakukan olahraga di usia dini menjadi satu hal yang strategis, pertama kita bisa melihat talenta sedari muda untuk kemudian dibina. Atlet berprestasi dunia dibina berjenjang dan berkelanjutan sejak usia dini,” jelas Josef Nae Soi.
“Kedua, olahraga yang dibiasakan sejak usia dini membentuk karakter generasi muda. Tidak kalah penting, anak-anak yang fokus olahraga di samping belajar, waktu mereka habis untuk hal yang terukur positif. Dengan kata lain, menghindari mereka dekat dengan paham radikal yang tidak sesuai dengan Bangsa Indonesia dan bahkan narkoba,” terang Josef.
Adapun tujuan kompetisi tersebut yakni berkaitan dengan upaya penanaman nilai nasionalisme, menghargai keragaman dan persatuan olahraga, sebagai bentuk pencegahan paham yang mengancam bangsa dan negara. Dalam pelaksanaannya, akan dilakukan sosialisasi akan bahaya dari penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorism (IRET).
Gubernur sekaligus Ketum KONI NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut baik kolaborasi ini. “Anak-anak ini bisa kita salurkan kemampuan positifnya, ke arah yang lebih positif, terutama olahraga, dan agar mereka juga dihidupi dengan jiwa-jiwa sportivitas, jiwa-jiwa fairness, jiwa-jiwa kompetisi yang baik, sehingga nantinya mereka kemudian bisa menghadapi berbagai macam paham-paham radikal yang akan berpotensi masuk melalui digital dan sebagainya,” jelas Melki.
“Kerja sama ini, kami berharap nanti Densus 88 juga membantu mencermati
di mana-mana saja perlu diantisipasi dengan baik,” lanjutnya menyinggung pendekatan olahraga yang paling cocok dengan anak-anak.
Rencananya, turnamen futsal berjudul Piala Flobamora 2026 diselenggarakan pada 5-15 Agustus 2026 di Lapangan Futsal Tanamera Liliba. Sampai saat ini, sudah ada 9 klub U18 dan juga 21 klub umum yang mendaftar. Pendaftaran sendiri dibuka hingga 2 Agustus 2026 (Herdin: 085237760330).


