Belajar Sport Science Bersama KONI: Mental Tangguh, Performa Tumbuh Lewat Sport Psychology

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat kembali menyelenggarakan seri Belajar Sport Science Bersama KONI hasil kolaborasi dengan Indonesian Sport Nutritionist Association (ISNA), yang memasuki topik kedua bertajuk “Mental Tangguh, Performa Tumbuh (Sport Psychology)”, Sabtu (25/7/2026). Webinar ini diikuti sekitar 300 peserta, yang dihadiri oleh Sekjen KONI Pusat Drs. Tb. Lukman Djajadikusuma, Ketua Bidang Sport Science Dr. Lilik Sudarwati, A, S.Psi, M.H., dan Narasumber Dr. Juriana, S.Psi. M.Si.
Membuka kegiatan, Ketum KONI Pusat yang diwakili Sekjen Drs. Tb. Lukman Djajadikusuma, MEMOS. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar tersebut. Ia berharap materi yang disampaikan mampu memberikan wawasan baru bagi pelatih, atlet, pengurus cabang olahraga, maupun akademisi dalam mengoptimalkan pembinaan prestasi.
“Atas nama Ketua Umum KONI Pusat, kami mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Semoga webinar ini memberikan manfaat yang besar untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia. Kepada para peserta yang menyaksikan, selamat mengikuti webinar pada kesempatan kali ini,” tuturnya.
Pada sesi utama, Dr. Juriana, S.Psi. M.Si. menekankan bahwa psikologi olahraga bukan lagi sekadar pelengkap dalam pembinaan atlet, melainkan kebutuhan yang harus diterapkan sejak awal proses latihan.
Ia menjelaskan bahwa masih banyak anggapan keliru mengenai psikologi olahraga. Selama ini, psikolog olahraga sering kali baru dilibatkan ketika atlet mengalami masalah atau menjelang pertandingan besar. Padahal, pendekatan tersebut dinilai sudah terlambat.
“Penerapan ilmu psikologi olahraga harus menjadi pendamping atlet sejak awal latihan, bukan baru dilakukan menjelang kompetisi. Psikologi olahraga juga bukan hanya digunakan ketika muncul masalah sebagai bentuk konseling,” jelasnya.
Menurut Dr. Juriana, pembinaan mental merupakan proses jangka panjang yang harus berjalan beriringan dengan latihan fisik, teknik, dan taktik. Atlet membutuhkan mental training secara berkelanjutan karena pada dasarnya atlet adalah manusia yang memiliki emosi, tekanan, dan tantangan psikologis selama menjalani proses pembinaan.
“Atlet bukan robot. Mereka manusia biasa yang memiliki emosi. Karena itu, latihan mental menjadi bagian penting agar atlet mampu menjaga fokus, mengendalikan emosi, dan tetap tampil optimal dalam berbagai situasi,” katanya.
Dalam paparannya, Dr. Juriana menjelaskan bahwa tujuan latihan mental adalah membangun ketahanan mental, membantu atlet menyatukan kekuatan tubuh dan pikiran (body and mind), mengembangkan kemampuan mengendalikan pikiran, emosi, serta perilaku saat bertanding, hingga membentuk strategi berpikir yang mendukung performa terbaik.
Salah satu materi yang ditekankan adalah pentingnya goal setting atau penetapan sasaran. Menurutnya, atlet perlu memiliki target yang jelas agar memiliki arah dalam proses latihan. Penetapan target tersebut idealnya menggunakan prinsip SMART Goals (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely) sehingga tujuan yang ditetapkan menjadi terukur dan realistis.
Selain itu, psikologi olahraga juga berperan penting pada tahap orientasi atlet, yaitu membantu atlet mengenali potensi dirinya, membangun karakter positif, menyusun target jangka pendek maupun jangka panjang, serta menumbuhkan pola pikir positif sejak usia dini.
Dr. Juriana juga mengingatkan para pelatih agar tidak hanya mencatat perkembangan fisik dan teknik atlet, tetapi juga perkembangan mentalnya.
“Pelatih harus memiliki catatan mengenai kondisi mental atlet yang dilatih. Dengan begitu, perkembangan atlet dapat dipantau secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi fisik dan teknik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan pembinaan mental dengan konsep Long-Term Athlete Development (LTAD). Menurutnya, pembinaan prestasi membutuhkan proses jangka panjang selama 8–12 tahun.
“Aspek psikologis harus dibangun secara konsisten sejak usia dini agar atlet mampu berkembang secara optimal dan memiliki kesiapan menghadapi berbagai tantangan kompetisi.” tutup Dr. Juriana dalam sesi webinar.
Melalui penyelenggaraan seri Belajar Sport Science Bersama KONI, KONI Pusat terus mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam sistem pembinaan olahraga prestasi nasional. Penerapan sport science termasuk melalui penguatan aspek psikologis, diharapkan mampu melahirkan atlet Indonesia yang tidak hanya unggul secara fisik dan teknik, tetapi juga memiliki mental tangguh untuk bersaing dan berprestasi di tingkat dunia.


