Optimistis masa depan Padel Indonesia, KONI Pusat Tekankan Pentingnya Pengalaman Internasional

Pasangan ganda putra Padel Indonesia Giorgio Alessandro Soemarsono dan Christian Alvin Edison, harus puas mengakui kemenangan pasangan Filipina Jason Lapidus/Argil Canizares di Nagoya City Higashi Sports Center, Senin 28 September 2026.
Pasangan Indonesia harus mengakui keunggulan wakil Filipina dalam dua set langsung dengan skor 1-6 dan 4-6.

Pada set pertama, Giorgio dan Christian belum mampu mengatasi tekanan permainan lawan sehingga harus menyerah 1-6. Memasuki set kedua, Giorgio dan Christian berupaya memberikan perlawanan. Namun, pasangan Filipina mampu mempertahankan keunggulan dan menutup pertandingan dengan skor 6-4 sekaligus memastikan kemenangan.
Ketua Bidang Kesejahteraan Pelaku Olahraga KONI Pusat Prof. Dr. Johansyah Lubis, M.Pd., menilai Giorgio Alessandro Soemarsono dan Christian Alvin Edison memiliki kesiapan fisik serta pemahaman permainan yang baik.
“Gio dan Alvin memiliki kesiapan fisik serta pemahaman permainan yang baik. Namun, pada awal pertandingan keduanya menyesuaikan diri dalam menghadapi tekanan,” ujar Johansyah yang juga Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta (FIKK UNJ).
“Shot execution dan shot selection beberapa kali kurang tepat, sementara keputusan tentang pukulan berikutnya belum selalu diambil dengan cepat,” lanjutnya.
Menurut Johansyah, ketika pasangan Filipina meningkatkan tekanan, pasangan Indonesia melakukan kesalahan sendiri atau unforced errors yang bertambah. Kondisi tersebut membuat Indonesia kesulitan mengembangkan permainan pada set pertama.
Memasuki set kedua, Johansyah melihat adanya perkembangan permainan yang baik. Gio dan Alvin mulai beradaptasi. Mereka lebih mampu mengikuti pace permainan, menemukan ritme, dan membaca celah lawan.
“Momentum penting muncul saat kedudukan 4–3 dan 40–30, tetapi peluang pada poin krusial itu belum dapat dikonversi. Kesalahan pada poin-poin berikutnya membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mengambil alih kendali permainan,” katanya.
Sebagai solusi konkret, Johansyah menambahkan, pengalaman bertanding di level internasional perlu terus diperbanyak untuk meningkatkan mental jam terbang dan kemampuan pasangan Indonesia.
“Ke depan, Gio dan Alvin perlu lebih sering mengikuti turnamen internasional dan menghadapi pasangan dengan tempo serta tekanan permainan yang tinggi. Pengalaman tersebut penting untuk mempertajam decision making yaitu menentukan pukulan yang tepat, membaca respons lawan, lalu segera bersiap untuk bola berikutnya,” tambahnya.
Ia juga mendorong agar evaluasi performa dilakukan secara terukur. Sejumlah indikator seperti win-loss ratio pada pertandingan ketat, jumlah unforced errors, serta keberhasilan memanfaatkan break point dapat menjadi bagian dari evaluasi pelatih dalam memantau perkembangan atlet.
“Evaluasi win-loss ratio pada pertandingan ketat, jumlah unforced errors, dan keberhasilan memanfaatkan break point dapat membantu pelatih memantau perkembangan mereka secara lebih terukur,” tutup Johansyah.


