Federasi Nasional Pordasi Polo Indonesia Dorong Pengembangan Kuda Lokal dan Sport Tourism
Jakarta, 27 Februari 2026 — Federasi Nasional Pordasi Polo Indonesia menegaskan komitmennya dalam membangun olahraga polo sebagai bagian dari ekosistem olahraga berkuda nasional yang terintegrasi, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi tinggi.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Federasi Nasional Pordasi Polo Indonesia, Hendra Sukanto, dalam Talkshow “The Heart of the Horse: Mengenal Lebih Dekat Olahraga Berkuda Indonesia” di Studio 5 Gedung Pusat Produksi Siaran (GPPS) TVRI.
Dalam kesempatan tersebut, Hendra menekankan bahwa pengembangan polo tidak lagi hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem menyeluruh yang mencakup pembinaan atlet, penguatan kualitas kuda lokal, pengembangan industri pendukung, serta integrasi dengan sektor pariwisata.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Kompetisi
Menurutnya, polo di Indonesia memang masih dalam tahap pertumbuhan. Namun justru di fase inilah fondasi yang kuat harus dibangun.
“Kami tidak hanya membentuk tim untuk bertanding. Kami membangun ekosistem. Mulai dari breeding dan pengembangan kuda lokal, pelatihan atlet, pelatih, groom, hingga menciptakan model kompetisi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Federasi Nasional Pordasi Polo mendorong peningkatan kualitas kuda lokal agar mampu memenuhi standar pertandingan arena polo. Strategi ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi peternak dan pelaku industri kuda dalam negeri.
Polo sebagai Kekuatan Baru Sport Tourism
Hendra juga menegaskan bahwa polo memiliki potensi besar sebagai motor sport tourism Indonesia. Karakter olahraga ini yang eksklusif, atraktif, dan visual menjadikannya sangat potensial dikemas sebagai destinasi event internasional.
“Banyak pemain mancanegara tertarik bermain di Indonesia. Dengan lanskap alam, pantai, hingga kawasan urban premium, kita memiliki positioning yang sangat kuat untuk mengembangkan polo sebagai sport tourism sekaligus sport diplomacy,” jelasnya.
Konsep arena polo yang fleksibel—termasuk kemungkinan digelar di kawasan pantai atau ruang urban—membuka peluang diferensiasi yang tidak dimiliki banyak negara.
Road to PON dan Profesionalisasi Polo
Dalam konteks pembinaan nasional, Federasi Nasional Polo Indonesia tengah mempersiapkan eksebisi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) sebagai pintu masuk penguatan legitimasi cabang olahraga ini di tingkat nasional.
Pembinaan dilakukan secara berjenjang dengan pendekatan talent scouting, pengembangan chemistry atlet dan kuda, serta sistem kompetisi arena yang lebih dinamis dan mudah diakses publik.
“Membangun polo memang membutuhkan proses. Chemistry antara atlet dan kuda adalah faktor kunci. Karena itu pembinaan harus sistematis dan jangka panjang,” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, federasi optimistis polo dapat berkembang dari olahraga komunitas menjadi cabang olahraga prestasi yang profesional dan memiliki model bisnis berkelanjutan.
Diplomasi, Industri, dan Masa Depan Polo Indonesia
Lebih jauh, pengembangan polo dinilai memiliki nilai strategis sebagai instrumen diplomasi olahraga. Kolaborasi dengan federasi luar negeri, pelatihan bersama, serta partisipasi dalam event internasional menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Federasi Nasional Polo Indonesia juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta untuk memperkuat industri pendukung, mulai dari perlengkapan, manajemen event, hingga pengelolaan venue.
“Polo bukan hanya olahraga. Ini adalah ekosistem industri, pariwisata, dan diplomasi yang memiliki dampak ekonomi nyata bagi daerah,” tutup Hendra.
Dengan arah strategis tersebut, Federasi Nasional Polo Indonesia optimistis dapat menjadikan polo sebagai salah satu kekuatan baru dalam olahraga berkuda nasional sekaligus platform sport tourism Indonesia di kancah global.


