KONI Pusat Tegaskan Peran pada Global Sport Governance dan Upaya Diplomasi Olahraga
Olahraga memiliki peran lebih luas dari sekadar kompetisi dan perebutan medali. Di tingkat internasional, olahraga menjadi ruang negosiasi, kerja sama, hingga diplomasi budaya yang dapat memperkuat posisi suatu negara. Hal tersebut disampaikan Wakil VI Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Dr. Drs. Josef Adreanus Nae Soi, M.M., dalam diskusi bertajuk “Global Sport Governance: Peran KONI Pusat dalam Diplomasi”.

Diskusi tersebut dilakukan dalam rangka menerima mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jayabaya. Waketum VI KONI Pusat didampingi Kabid Luar Negeri Gudadi Bambang Sasongko, Kabid Sport Intelligence Eman Sungkowo, Kabid Media dan Humas Tirto Prima Putra, Staf Ahli Hamka Handaru, Wakabid Media dan Humas Martinez dos Santos, Wakabid Sport Intelligence Syarif Hidayat.
Rombongan Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jayabaya dipimpin Kaprodi Laila Indriyanti Fitria serta dosen Nina Widyaswasti Aisha.

Dalam pemaparannya, Josef menjelaskan bahwa Global Sport Governance merupakan sistem aturan, norma, dan lembaga yang mengatur penyelenggaraan olahraga lintas negara. Sistem tersebut melibatkan negara, organisasi olahraga internasional, serta lembaga multilateral yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan olahraga dunia.
“Inti dari hubungan internasional adalah negosiasi, ini yang bicara praktisi,” ujar Waketum VI.
Menurut Josef, negosiasi menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarnegara, termasuk melalui olahraga. Kerja sama yang terjalin tidak hanya mendukung pengembangan atlet dan pelatih, tetapi juga membuka ruang komunikasi serta memperkuat hubungan Indonesia dengan negara lain.
“Peran KONI adalah bilateral Sport Diplomacy,” sebut Josef. Ia menjelaskan, KONI Pusat menjalankan peran diplomasi olahraga melalui sejumlah kerja sama internasional. Salah satunya dengan Korea Selatan melalui nota kesepahaman pada 2018 yang mencakup pertukaran pelatih dan atlet serta sesi latihan bersama. Kerja sama lainnya dilakukan dengan Brunei Darussalam melalui pengiriman pelatih polo Indonesia, serta dengan Timor-Leste melalui program pembelajaran olahraga petanque di Nusa Tenggara Barat.
Program tersebut menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi jembatan untuk membangun persahabatan dan memperluas kerja sama lintas negara. Interaksi melalui olahraga juga memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan budaya yang mendukung perkembangan olahraga nasional.

Pencak Silat Didorong Menuju Olimpiade
Secara khusus, Josef turut menyoroti upaya KONI Pusat bersama Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PB IPSI) untuk mendorong pencak silat dipertandingkan dalam Olimpiade Los Angeles 2028. Olahraga bela diri asli Indonesia itu diharapkan dapat mendunia.
Menurutnya, upaya tersebut perlu diiringi dengan pengenalan dan pembinaan pencak silat di berbagai negara. Dengan semakin luasnya pengenalan terhadap pencak silat, peluang untuk mengembangkan cabang olahraga ini di tingkat internasional diharapkan semakin terbuka.
Strategi yang dibahas meliputi peningkatan kualitas pelatih melalui sertifikasi internasional, kerja sama dengan perguruan tinggi di berbagai negara, serta sosialisasi dan demonstrasi pencak silat di tingkat global.
Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperluas partisipasi dalam olahraga, tetapi juga memperkenalkan pencak silat sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sarana diplomasi budaya sekaligus memperkuat pengenalan Indonesia di mata dunia.
Ketertarikan Mahasiswa Menulis tentang Olahraga
Kuliah umum ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendalami dunia olahraga melalui perspektif hubungan internasional. Ketertarikan mahasiswa untuk menulis tentang olahraga menjadi peluang untuk mengangkat isu keolahragaan dari sudut pandang yang lebih luas, mulai dari diplomasi, kebijakan, hingga hubungan antarnegara.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diarahkan menyusun policy brief bertajuk “Strategi KONI agar Pencak Silat Masuk Olimpiade Los Angeles 2028: Perspektif Diplomasi HI”. Melalui tugas ini, mahasiswa diajak menganalisis strategi pengembangan olahraga Indonesia dengan menggunakan perspektif hubungan internasional serta merumuskan rekomendasi yang relevan.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa olahraga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai topik penulisan dan kajian akademik. Tidak hanya membahas pertandingan dan prestasi atlet, tulisan mengenai olahraga juga dapat mengulas peran organisasi internasional, diplomasi budaya, serta upaya Indonesia memperkenalkan pencak silat di tingkat global.
Belajar dari Dinamika Tata Kelola Olahraga Global
Josef juga mengangkat kasus sanksi FIFA terhadap Indonesia pada 2015–2016 sebagai contoh pengaruh organisasi olahraga internasional terhadap kebijakan nasional. Saat itu, pembekuan PSSI oleh pemerintah diikuti sanksi FIFA yang membatasi partisipasi Indonesia dalam kompetisi internasional. Sanksi tersebut dicabut pada Mei 2016 setelah Indonesia memenuhi persyaratan FIFA.
Kasus tersebut memperlihatkan pentingnya koordinasi antara pemerintah, organisasi olahraga nasional, dan lembaga olahraga internasional. Hubungan kelembagaan serta kepatuhan terhadap aturan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan partisipasi Indonesia di panggung olahraga dunia.
Melalui diplomasi bilateral, kerja sama multilateral, dan pengenalan budaya, KONI Pusat memiliki ruang untuk memperkuat jejaring internasional sekaligus mendukung kemajuan olahraga nasional.
Kuliah umum ini menegaskan bahwa olahraga bukan hanya tentang kemenangan di arena pertandingan. Di balik prestasi atlet, terdapat proses negosiasi, kerja sama, dan diplomasi yang berperan dalam membangun hubungan antarbangsa serta memperkenalkan Indonesia kepada dunia.


