Di Pulau 1000 Kuda Menuju Panggung Dunia, KN Pordasi Gaungkan Aman Berprestasi dan Dukung Sport Tourism Sumba

Menjelang penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 Nusa Tenggara Timur (NTT) – Nusa Tenggara Barat (NTB), Ketua Presidium Konfederasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (KN Pordasi) Triwatty Marciano melakukan kunjungan ke sejumlah arena Pacu Kuda di Pulau Sumba, kunjungan tersebut dilakukan sejak 16 hingga 19 Juli 2026.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Ketua Harian Federasi Nasional (FN) Pordasi Pacu Eddy Wijaya, pengurus KN Pordasi Berkuda Memanah yang mendampingi Ketua Presidium KN Pordasi yang juga Ketum FN Pordasi Berkuda Memanah, serta pengurus FN Pordasi daerah setempat.

Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi bentuk tinjauan kesiapan venue semata, melainkan menjadi momentum untuk memastikan bahwa perkembangan olahraga Pacu Kuda berjalan seiring dengan peningkatan standar keselamatan, dan kualitas penyelenggaraan.

Bagi KN Pordasi, prestasi tidak dapat dipisahkan dari standar kualitas penyelenggaraan. Salah satu terpenting dari penyelenggaraan yang berkualitas adalah keselamatan atlet yang merupakan aset bangsa. Oleh karenanya, KN Pordasi mengimplementasikan kampanye “Aman Berprestasi” yang menempatkan perlindungan atlet sebagai kunci utama dalam pembinaan olahraga berkuda di Indonesia.

Impelementasi Kampanye Aman Berprestasi

Sebagai bentuk nyata kampanye tersebut, KN Pordasi menyerahkan 90 body protector dan helm kepada sejumlah pemerintah daerah di empat Kabupaten Pulau Sumba, diantaranya :

1.⁠ ⁠Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alphawan Rangga Kaka, pada Kamis 16 Juli 2026.

2.⁠ ⁠Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, pada Jumat  17 Juli 2026.

3.⁠ ⁠Wakil Bupati Sumba Tengah, Marthinus Umbu Djoka, pada Sabtu 18 Juli 2026.

4.⁠ ⁠Sekretaris Daerah Sumba Timur, Umbu Ngadu Ndamu, pada Minggu 19 Juli 2026.

Sebanyak 50 set body protector dan helm digunakan secara langsung oleh para Joki cilik yang berlaga pada Kejuaraan Pacu Kuda Piala Bupati Sumba Barat 2026, sementara sisanya diserahkan secara simbolis oleh Ketua Presidium KN Pordasi Triwatty Marciano kepada pemerintah daerah sebagai bagian dari pembinaan jangka panjang, dengan harapan alat proteksi tersebut dapat digunakan kala bertanding dalam kompetisi oleh para Joki cilik.

Ketua Presidium KN Pordasi Triwatty Marciano menegaskan bahwa perlindungan terhadap joki cilik merupakan prioritas utama.

“Melalui kampanye Aman Berprestasi, kami ini memastikan bahwa anak-anak yang menjadi joki cilik tetap dapat mengembangkan bakatnya dengan perlindungan yang memadai. Mengingat mereka adalah calon atlet masa depan Indonesia, prestasi harus di bangun di atas keselamatan,” ungkap Triwatty Marciano.

KN Pordasi juga mendorong pemerintah daerah untuk menjadikan body protector dan helm sebagai standar wajib dalam setiap latihan maupun kompetisi Pacuan Kuda Tradisional. Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi tata kelola olahraga Pacuan Kuda Indonesia menuju penyelenggaraan yang semakin profesional, tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal yang telah hidup di tengah masyarakat Sumba.

Sebagai informasi bahwa perlengkapan tersebut merupakan hasil produksi dalam negeri, hal ini menunjukkan komitmen KN Pordasi, FN Pordasi Pacu, FN Pordasi Berkuda Memanah, FN Pordasi Polo, dan FN Pordasi Equestrian, dalam mendukung industri nasional dalam pengembangan olahraga di Indonesia, khususnya berkuda.

Sejarah dan Perkembangan Pacu Kuda di Sumba

Jauh sebelum Pacuan Kuda menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan secara resmi, masyarakat Sumba telah menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehatri-hari. Hal tersebut dibuktikan dengan hampir seluruh masyarakat di Sumba memiliki Kuda, oleh karenanya Sumba dikenal dengan sebutan “Pulau 1000 Kuda”, tradisi berkuda bagi masyarakat Sumba telah diwariskan lintas generasi dan tumbuh menjadi identitas budaya yang melekat pada masyarakat.

Tradisi menunggang kuda telah menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak-anak Sumba sejak usia dini, dengan kemampuan menunggang yang diwariskan secara turun-temurun, para Joki cilik menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi tradisi Pacuan Kuda di Pulau Sumba. Keberanian, keterampilan, dan naluri berkuda para Joki cilik di Sumba terbentuk secara alami.

Pacuan Kuda tradisional tidak hanya memiliki nilai olahraga, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pengembangan industri peternakan, UMKM, hingga pariwisata berbasis budaya.

KN Pordasi memandang bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan olahraga. Sejalan dengan hal tersebut, KN Pordasi menyatakan komitmennya bersama dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas venue Pacuan Kuda di NTT agar memenuhi standar nasional dan internasional. Peningkatan kualitas venue mencakup peningkatan kualitas lintasan, sistem keamanan arena, fasilitas, hingga penerapan standar operasional penyelenggaraan yang mengutamakan keselamatan atlet, kuda, dan masyarakat.

Beberapa venue yang dikunjungi meliputi :

1.⁠ ⁠Lapangan Omba Calo, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, yang diusung untuk dikembangkan menjadi arena pacuan kuda berstandar internasional, melalui peningkatan kualitas lintasan, fasilitas pendukung, dan aspek keselamatan.

2.⁠ ⁠Arena Pacu Kuda Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, yang telah ditetapkan oleh Ketum KONI Pusat sebagai venue cabang olahraga Pacu Kuda pada PON XXII/2028 NTT-NTB.

3.⁠ ⁠Lapangan Pacu Rihi Eti, Prailiu, Kabupaten Sumba Timur, yang juga menjadi bagian dari peninjauan sebagai salah satu venue potensi untuk mendukung pembinaan atlet dan pengembangan ekosistem olahraga Pacuan Kuda di Pulau Sumba.

Melalui penyelenggaraan PON XXII/2028 NTT-NTB, Pacuan Kuda tradisional Sumba memperoleh pengakuan yang lebih luas sebagai bagian dari olahraga prestasi nasional. Peninjauan tersebut merupakan bagian dari komitmen KN Pordasi untuk mendorong peningkatan kualitas venue Pacu Kuda di NTT, agar memenuhi standar penyelenggaraan nasional maupun internasional.

Peningkatan Sport Tourism di Sumba

Tidak hanya dikenal sebagai ‘Pulau 1000 Kuda’, Sumba menyimpan potensi besar sebagai destinasi Sport Tourism yang mampu memadukan olahraga, budaya, dan keindahan alam dan satu wilayah.

Penonton tidak hanya disuguhkan adrenalin saat menyaksikan para Joki bertanding, namun juga dimanjakan oleh pemandangan yang telah dikenal hingga mancanegara sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata Indonesia.

Keunikan ini menjadikan Pacuan Kuda Sumba memiliki nilai lebih dibandingkan sekedar kompetisi olahraga. Pacuan Kuda berkembang menjadi budaya yang berpadu dengan pesona alam, sehingga mampu menarik wisatawan, pegiat olahraga, dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Ketua Presidium KN Pordasi Triwatty Marciano, didampingi Bupati Sumba Barat Yohanis Dade dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Timur Umbu Ngadu Ndamu, meninjau sejumlah venue Pacuan Kuda di Pulau Sumba. Dalam kesempatan tersebut, Triwatty Marciano menilai bahwa kekayaan tradisi Pacuan Kuda yang berpadu dengan keindahan alam Sumba merupakan modal besar untuk mengembangkan Sport Tourism di NTT.

Dengan meningkatnya kualitas penyelenggaran dan infrastruktur, Pacuan Kuda Sumba diyakini mampu menjadi penyelenggaraan kompetisi olahraga nasional yang berdampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Ketua Presidium KN Pordasi Triwatty Marciano, menegaskan bahwa pengembangan Pacuan Kuda di Sumba tidak hanya berorientasi pada prestasi olahraga, namun diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Sumba memiliki semua unsur yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi Sport Tourism kelas dunia. Budaya berkuda yang kuat, masyarakat yang mencintai olahraga Kuda, Kuda lokal yang berkualitas, serta panorama alam yang luar biasa merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah. Potensi ini harus dikembangkan secara terpadu sehingga memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Penyelenggaraan berbagai kejuaraan Pacu Kuda di Sumba telah memberikan dampak nyata bagi perputaran ekonomi daerah. Kehadiran ribuan penonton dan peserta menggerakan roda ekonomi di berbagai sektor. Semakin banyak agenda kejuaraan yang digelar, maka semakin besar pula peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Momentum penyelenggaraan PON XXII/2028 NTT-NTB semakin memperkuat optimisme tersebut. Penetapan arena Pacu Kuda Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, sebagai venue cabang olahraga Pacu Kuda, menjadi langkah awal dalam memperkenalkan Sumba kepada masyarakat Indonesia sebagai destinasi olahraga sekaligus pariwisata unggulan.

Dengan kekayaan budaya, tradisi Pacuan Kuda, serta bentang alam, Sumba memiliki peluang besar dalam peningkatan Sport Tourism Indonesia. perpaduan antara olahraga, Budaya, dan keindahan alam, menjadikan Sumba sebagai destinasi yang layak diperhitungkan sebagai pusat Sport Tourism dengan standar internasional.

author avatar
Tasya Aulia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *