Menatap Lari Trail Indonesia, dari Rekreasi, Prestasi, hingga Konservasi

Indonesia merupakan negara yang kaya akan bentang alam seperti pegunungan dan perairan, hal ini menjadi potensi besar bagi salah satu cabang olahraga yakni lari trail, yang kini terus berkembang mulai dari komunitas rekreasi hingga saat ini menjadi cabang olahraga prestasi.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan atlet lari trail yang mampu meraih prestasi di kancah dunia ketika mewakili bangsa dan negara.

“Dalam beberapa kesempatan lomba lari trail yang dilakukan di beberapa daerah, pelari-pelari trail non atlet berhasil meraih podium kemenangan. Mereka inilah yang kemudian dapat menjadi bibit-bibit atlet baru yang sudah siap berkompetisi dan siap untuk di bina,” jelas Sekretaris Umum Pengurus Pusat Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP.ALTI) Dr. Donny Gahral Adian pada talkshow Bincang olahraga kolaborasi ALTI dengan TVRI.

“Oleh karenanya, kami ingin mengangkat bakat tersebut untuk siap berkompetisi tanpa harus mulai dari nol,” lanjut Donny pada 26 Februari 2026.

Anggota PP. ALTI telah menjangkau 24 provinsi di Indonesia. Berbagai kompetisi juga digelar dalam rangka peningkatan prestasi sekaligus menjadi wadah evaluasi pembinaan dan sosialisasi lari trail. Kejuaraan yang digelar mulai kejuaraan daerah, kejuaraan nasional setiap tahun, South East Asia Championship, Asia Pasific Championship, hingga World Championship.

Dari Rekreasi, Prestasi hingga Konservasi

“Kami mendorong kompetisi antar daerah semakin kompetitif, saat ini DKI Jakarta masih unggul dalam hal prestasi, namun kami berharap kualitas atlet di seluruh wilayah di Indonesia bisa merata,” ucap Donny.

Lari trail sendiri memiliki perbedaan dengan lari pada umumnya, mulai dari medan yang digunakan seperti gunung dan hutan, ada elevasi serta kontur alam yang tidak rata hingga dapat dilakukan di pantai, dengan ekstremnya cuaca. Sehingga dalam lari trail sendiri yang ketahanan dan endurance menjadi salah satu poin penting.

Tidak hanya hal tersebut, adanya elevasi dalam medan yang digunakan berpengaruh dengan kadar oksigen, mengingat di dataran tinggi kadar oksigen cenderung lebih tipis, sehingga para atlet harus memanfaatkan oksigen tersebut secara efisien. Hal ini tentu menimbulkan dampak positif bagi daya tahan tubuh dan performa fisik.

Dengan sekitar 150 taman nasional yang sebagian besar di antaranya merupakan kawasan pegunungan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekayaan gunung terbanyak di dunia. Potensi ini dinilai mampu dalam meningkatkan Sport Tourism dan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Para pelari trail merupakan bagian kecil dari masyarakat yang paling sering beraktivitas di gunung dan hutan. Oleh karenanya, mereka diharapkan dapat menjadi duta lingkungan.

“Atlet lari trail memahami kondisi alam pegunungan dan berperan aktif dalam pelestarian lingkungan, seperti kegiatan penanaman pohon, bekerja sama dengan Polisi hutan (Polhut), serta mengedukasi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam,” tegas Sekum PP. ALTI.

Dalam waktu dekat, PP. ALTI akan melaksanakan penanaman pohon damar dan kopi di kawasan Gunung Pancar, sebagai bentuk pencegahan deforestasi dan longsor, khususnya di wilayah Sentul dan Jawa Barat. Akar pohon damar dan kopi yang kuat mampu menahan air dan membantu mencegah longsor.

“Kami PP. ALTI juga menerapkan prinsip “Leave No Trace” sebagai himbauan agar para atlet tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan tempat minum non plastik, serta membawa sampah turun dari gunung tersebut. Terlebih kita juga menghimbau apabila menemukan kerusakan lingkungan para atlet dapat berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk Polisi Hutan,” tegas Donny.

Melalui pembinaan berkelanjutan, penguatan kompetisi, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan, lari trail diharapkan mampu mencetak atlet berprestasi sekaligus menjadi motor penggerak Sport Tourism

author avatar
Tirto Prima Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *