PON XX Tahun 2021 di Papua, dari Sejarah hingga Harapan TORANG BISA

Tulisan Iseng Tirto

Pekan Olahraga Nasional (PON) diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan, itu amanat Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Pemerintah bertanggung jawab atas penyelenggaraannya dengan menugasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) selaku penyelenggaranya menurut Pasal 46 ayat (2) UU SKN. Landasan tersebut menjadi cukup sebagai dasar penyelenggaraan PON.

Namun begitu, PON ini sangat disayangkan jika hanya dilihat dari sudut pandang legal formal. Kegiatan olahraga yang kini kita kenal dengan kata ‘PON’ perlu juga dilihat dari esensinya. Pahamilah PON sebagai multievent olahraga prestasi dan olahraga prestasi itu sendiri jangan dipahami sebatas kegiatan yang menggunakan fisik semata.

Dari Identitas Bangsa, Harga Diri hingga Kebangkitan di Era Covid-19

PON I

Sejarah dapat menceritakan kita bagaimana peran dan esensi multievent olahraga jika dikaitkan dengan Indonesia. Ketika Hindia Belanda masih menjadi nama untuk Tanah Air kita tercinta dulu kala, muncul situasi yang berujung pada suatu kesadaran dari mereka yang mayoritas tertindas oleh faham kolonialisme, yakni kelompok pribumi.

Nusantara ini terdiri dari beragam pulau, dan juga beragam bangsa berikut keragamannya. Namun begitu, mayoritas semuannya merasa tertindas. Alhasil lahirlah momentum persatuan keberagaman yang tertindas tersebut menjadi satu kesatuan, Sumpah Pemuda, tumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, bahasa yang satu, Indonesia. Tahun 28 Oktober 1928 tepatnya.

Sederhananya, sepuluh tahun kemudian, Bangsa Indonesia melakukan perjuangan melawan kolonialisme melalui multievent olahraga prestasi. Wadah induk olahraga, bernama Ikatan Sport Indonesia (ISI) menggelar Pekan Olahraga ISI di Surakarta pada tanggal 15-22 Oktober 1938. Tak heran, hari pertama penyelenggaraannya menjadi tanggal kelahiran KONI sekaligus Closing Ceremony PON XX.

Perhelatan olahraga tersebut bukanlah hanya pertandingan olahraga tapi juga memiliki nilai kebangsaan dan nasionalisme.

Tujuan Bangsa Indonesia menggelar kompetisi olahraga adalah “menunjukkan jati diri” sebagai satu bangsa, melakukan persatuan dan melawan tindak diskriminasi oleh kolonial Hindia Belanda.

Olahraga mengajarkan kita nilai egaliter, semuanya sejajar dan dipandang sama, bukan diskriminasi. Hal tersebut sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia, sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda namun tetap satu bangsa yang menjunjung tinggi humanisme.

Apakah multievent olahraga nasional hanya berperan saat masa penjajahan? Tidak.

Setelah Indonesia Merdeka, olahraga juga masih terkait erat dengan nasionalisme dan harga diri bangsa. Indonesia menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama Tahun 1948 di Solo dengan maksud menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai negara berdaulat kepada dunia internasional.

Kala itu Indonesia masih mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin merebut kembali pasca Jepang takluk dari sekutu pasca Perang Dunia Kedua.

Adanya PON, seluruh daerah mengirimkan kontingennya untuk bertanding dalam satu multievent nasional. Dengan begitu, membuktikan kuatnya rasa nasionalisme kepada NKRI. Ingatlah saat itu wilayah Indonesia banyak dipengaruhi oleh Belanda. Ada negara boneka Van Mook, ada beragam perjanjian yang memecah wilayah Indonesia.

Sederhana kata, kehadiran seluruh provinsi pada PON sebagai suatu perlawanan dari upaya Belanda memecah belah Indonesia. Bertanding pada PON, adalah simbol persatuan daerah yang diwakilinya.  

Tak heran, saat itu Presiden Soekarno menyampaikan dalam pidatonya pesan kepada para atlet agar tidak hanya hadir untuk berolahraga, tapi juga menunjukkan semangat kemerdekaan yang menyala-nyala. Ya, PON saat itu mengangkat harga diri Bangsa Indonesia dengan menunjukan eksistensinya.

Lalu, PON XX Tahun 2021 di Papua. Jika dahulu melawan penjajah, kini Bangsa Indonesia melawan Covid-19 bersama umat manusia di dunia. Keberhasilan PON XX akan membuktikan Bangsa Indonesia tidak takluk dari Covid-19, Kita mampu bangkit dengan berolahraga, berkarya dan berprestasi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

PON XX menjadi momentum kebangkitan Bangsa Indonesia dari Covid-19. PON XX masih ada beberapa kekurangan, tapi dengan semangat seluruh pihak, baik itu KONI, Panitia Besar.PON, seluruh kontingen, dan masyarakat Papua, PON XX sudah dapat berjalan lancar dengan semangat kebangkitan.

Tak hanya itu, Papua juga mendapatkan momentum.

Banyak memang separatis di Papua, tapi dengan suksesnya PON XX kali Ini akan membuktikan bahwa masyarakat Papua pada umumnya tidak hanya bagian integral NKRI namun mampu mempersatukan Bangsa Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut akan memperkuat pandangan bahwa separatis di Papua hanyalah minoritas kecil orang yang memiliki agenda kelompok kecilnya, bukan mewakili masyarakat Papua pada umumnya.

Papua Aman? 

Masyarakat Papua antusias menyambut saudara-saudari sebangsa dari 33 provinsi dengan tarian khas

Pada PON XX Tahun 2021 di Papua, pengamanan diberlakukan ekstra. Personel gabungan TNI-Polri akan dikerahkan sebanyak 9.490. Itu belum termasuk personel yang ikut melekat dengan kontingen dari masing-masing daerah. Sebagai gambaran, atlet yang bertanding berjumlah 7.039 (belum termasuk mereka yang batal karena reaktif Covid-19).

Penyelenggaraan PON XX digelar di empat klaster, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Merauke. Umumnya berada di pesisir pantai, sedangkan separatis atau kriminal yang ditakuti umumnya berasal dari daerah pegunungan.

Selain jumlah personel banyak dan kejahatan yang umumnya kerap terjadi di daerah pegunungan. Penting melihat data Badan Pusat Statistik (BPS). Tahun 2019, BPS mencatat 10 provinsi dengan penduduk yang pernah menjadi korban kejahatan tertinggi. Peringkat pertama adalah Kalimantan Utara dengan 2,19%, kedua NTB dengan 2,14%, Ketiga Papua Barat dengan 1,88%.

Dimana Papua yang kerap dianggap tidak aman? Papua berada di peringkat ke-6 dengan 1,55%, dengan potensi banyak terjadi di pegunungan.

Kemudian, keamanan pertandingan. Tak dapat dipungkiri, bahwa banyak penonton yang kerap terbawa emosi ketika timnya kalah bertanding. Pada PON pertama di masa pandemi ini, hal risiko tersebut kecil. Sebab, penerapan protokol kesehatannya.

Hanya boleh 25% dari kapasitas, itu pun sudah termasuk panitia yang bertugas. Di samping itu, tempat memasuki Venue juga dilengkapi metal detector serta pengamanan yang ketat dari aparat. Sebagai pendukung, masyarakat tidak perlu datang ke Venue untuk menonton, mereka bisa melihat tayangan langsung secara gratis dari aplikasi;

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.pon.app

Selanjutnya, bicara keamanan masa kini maka tidak sebatas keamanan dari fisik namun juga virus yang kini dibicarakan setiap hari oleh umat manusia di muka bumi ini. Semua kontingen yang berangkat ke Papua telah disarankan menjalani 5 hari karantina, dan negatif Swab PCR dari tempat keberangkatan.

Setiba di Papua, mereka dari bandara langsung ke tempat penyambutan sehingga tidak berlama-lama di bandara dan membuat kerumunan. Di tempat penyambutan, kontingen mengisi aplikasi peduli lindungi dan yang terpenting mereka harus kembali di swab.

Adapun, kontingen hanya diizinkan ke tempat penginapan dan Venue, tidak lebih dari itu. Di tambah, mereka diharapkan hanya berada di Papua saat bertanding saja, setelah selesai, harus pulang.

Dari sisi masyarakat Papua, Presiden Joko Widodo telah instruksikan agar masyarakat sekitar Venue divaksin. Hal tersebut telah dilakukan dan menjadi salah satu syarat dapat menonton PON XX.

Apa Harapan Warisan untuk Papua?

PON XX dapat terselenggara dengan mayoritas pelaksananya masyarakat Papua. KONI Pusat beserta cabor yang bertanding telah memberikan bimbingan teknis dan pengalaman melaksanakan pertandingan. Selain itu, Pemerintah Pusat dan daerah juga telah membangun Venue berstandar internasional. Itu adalah warisan untuk Papua, sehingga Papua dapat menggelar kegiatan olahraga lainnya.

Venue megah Akuatik yang dibangun Kementerian PUPR

Di sisi lain, adanya PON XX membuat masyarakat luas lebih tahu dalam tentang Papua. Harapannya ketertarikan tersebut menjadi ajang promosi Papua sehingga pariwisatanya dan sektor lainnya, terdorong maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *