Menggapai Prestasi, Kiprah Drg. Nia di Dunia Lari Trail

Atlet lari trail asal DKI Jakarta Drg. Septiana Nia Swastika atau yang sering disapa Nia sukses menjadi salah satu atlet berprestasi di ekshibisi PON XXI Aceh-Sumut dengan meraih medali emas kategori jarak panjang. Di tengah kesibukannya sebagai dokter gigi, Nia berhasil menorehkan prestasinya di lintasan pegunungan dalam lingkup nasional dan internasional.

Tujuan awal yang sederhana yakni menurunkan berat badan dan menjaga kebugaran tubuh membawa Nia mengawali perjalanan olahraganya pada tahun 2016.

“Saya awalnya hanya ikut coba dengan teman untuk naik gunung dan bukit, dari situ saya merasa bahwa lari trail ini lebih asyik karena selain menantang kita dimanjakan dengan pemandangan yang indah,” ungkap Dokter Nia.

Sejak tahun 2018 hingga saat ini, Dokter Nia fokus pada lari trail dan mengembangkan kecintaannya pada lari trail dengan menjadi atlet lari trail andalan DKI Jakarta. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah lari trail di Gunung Rinjani dengan kategori 36 KM, 60 KM, hingga 100 KM.

“Setiap gunung menurut saya memiliki karakteristik elevasi yang berbeda dan memberikan tantangan tersendiri,” ujar Dokter Nia.

Tidak hanya di dalam negeri, Nia juga seringkali mengikuti kejuaraan lari trail di luar negeri dua di antaranya adalah UTMB Prancis dan WMTRC Spanyol. Perbedaan geografis baginya tidak menjadi hambatan, namun menjadi tantangan menarik tersendiri.

“Dalam pengalaman saya tantangan terbesar sebetulnya saat di Prancis karena perubahan cuaca, penyesuaian makanan itu sangat berpengaruh, namun karena persiapan yang matang semua bisa saya lalui dengan baik,” kata Dokter Nia.

Sebagai dokter dengan agenda yang cukup padat, Dokter Nia harus cermat dalam mengatur waktu untuk latihan. Ia melakukan latihan setiap dua kali sebelum kejuaraan. Adapun teknik latihan yang dijalani adalah long run atau latihan di medan perbukitan, dengan melihat kurun waktu menuju kejuaraan, apabila semakin dekat dengan waktu kejuaraan maka latihan yang dijalankan akan semakin intens.

Dokter Nia menjelaskan perbedaan signifikan antara road running dan lari trail, terutama terletak pada perlengkapan dan karakter latihan. Lari trail sendiri memiliki perlengkapan sepatu khusus yang di desain dengan grip untuk medan yang tidak rata, vest untuk membawa perlengkapan, serta latihan yang spesifik menyesuaikan elevasi dan rute lomba.

Nia menilai lari trail memiliki potensi besar di Indonesia, mengingat kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Pegunungan, alam  dan kondisi geografis di Indonesia sangat mendukung perkembangan lari trail dan peningkatan nilai sport tourism. Baginya kesadaran terhadap lingkungan harus terus dijunjung tinggi, guna menjaga ekosistem.

“Mungkin yang saya bisa sampaikan kepada masyarakat dan para atlet lari trail Indonesia, kita harus terus menjaga lingkungan, apabila kita membawa bekal ke gunung, alangkah baiknya sampahnya kita bawa turun dan dibuang pada tempatnya karena sangat disayangkan apabila kita tidak menjaga alam, alam Indonesia ini sangat indah. Sayang apabila dirusak begitu saja,” tegasnya.

Beberapa komunitas lari trail, direncanakan akan aktif melakukan kegiatan pelestarian seperti penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap alam.

author avatar
Aprianti Vernanda Utami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *