Empat Federasi Nasional Pordasi Sampaikan Program Kerja secara Nasional
Program “Bincang Olahraga” dari TVRI Sport pada Jumat 27 Februari 2026 membahas olahraga berkuda Indonesia.
Anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang membina olahraga berkuda adalah empat Federasi Nasional (FN) hasil Transformasi Organisasi sejak Munas XIV Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) tanggal 13 – 15 November 2024, antara lain; FN Pordasi Pacu, FN Pordasi Equestrian, FN Pordasi Polo dan FN Pordasi Berkuda Memanah. Perwakilan empat federasi nasional hadir di studio 5 TVRI untuk berbagi informasi tentang olahraga berkuda.
Federasi Nasional Pordasi Berkuda Memanah

Olahraga berkuda merupakan bagian dari olahraga prestasi, yang dapat mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, sebagian masyarakat masih menilai olahraga berkuda termasuk elite. Penilaian tersebut ditanggapi oleh FN Pordasi Berkuda Memanah.
Tahun 2026 khususnya, menjadi tahun penting bagi keempat Pordasi dalam meningkatkan prestasi olahraga berkuda di Indonesia, hal tersebut dibuktikan dengan berbagai agenda sosialisasi dan kompetisi yang telah direncanakan, guna membangun ekosistem olahraga berkuda yang inklusif dan berkesinambungan.
Salah satu cabang olahraga yang telah memiliki agenda strategis pada tahun ini adalah FN Pordasi Berkuda Memanah yang memadukan olahraga sunah, tradisi, warisan budaya, dipadu dengan pendekatan prestasi.
Berkuda Memanah mulai tumbuh di Indonesia sejak Tahun 2017-2018, dan bergabung dengan Pordasi pada Tahun 2020. Saat ini berkuda memanah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di beberapa daerah, dengan anggota 17 provinsi di Indonesia pasca transformasi.
“Berkuda memanah ini merupakan salah satu cabang olahraga yang cukup unik, karena menyatukan nilai historis dan pembinaan prestasi dalam satu kesatuan, di Indonesia sendiri perkembangan berkuda memanah cukup signifikan, kita sudah memiliki 17 provinsi sebagai anggota, dan itu mungkin akan bertambah,” ungkap Sekjen Federasi Nasional FN Pordasi Berkuda Memanah Ir. Luthfi Syaifullah Zubir.

Meskipun secara ideal menggunakan kuda impor, kuda lokal mulai digencarkan, tentunya yang memenuhi standar pertandingan.
“Kami juga sedang mulai memanfaatkan kuda-kuda lokal, yang tentunya masuk dalam persyaratan pertandingan, sehingga pembinaan lebih terjangkau. Selain itu sosialisasi terus kami lakukan baik mulai dari perguruan tinggi, sekolah, hingga pesantren, mengingat di Indonesia ini pesantren cukup banyak, sehingga kami yakin bahwa berkuda memanah ini bisa semakin berkembang,” kata Luthfi.
Sebagai informasi bahwa pada Tahun 2026, Pordasi Berkuda Memanah akan menyelenggarakan Liga Santri Indonesia Seri 1 pada 3-5 April 2026 di Jawa Tengah, Kejurnas III Pordasi Berkuda Memanah pada 12-14 Juni 2026 di DKI Jakarta dan Jawa Barat, Liga Santri Indonesia Seri 2 pada 7-9 Agustus 2026 di Bali, Asian Horseback Archery Championship pada Oktober 2026, serta Liga Santri Indonesia Seri 3 pada 4-6 Desember 2026 di Banten.
Dengan pertumbuhan organisasi, dukungan masyarakat, serta penguatan kerja sama internasional, Pordasi Berkuda Memanah optimis menjadi cabang olahraga yang tidak hanya melestarikan nilai tradisi, namun berkontribusi dalam prestasi olahraga Tanah Air, baik dalam lingkup nasional maupun internasional.
Federasi Nasional Pordasi Pacu

Publik diajak untuk melihat lebih dekat strategi pengembangan olahraga berkuda Pacu di Indonesia, yakni olahraga berkuda paling tua di Nusantara dibandingkan Equestrian, berkuda memanah dan Polo.
Ketua Harian FN Pordasi Pacu Eddy Wijaya mengawali dengan identitas Kuda Pacu Indonesia (KPI), yang merupakan hasil persilangan yang terencana. Kuda-kuda yang berlaga di lintasan saat ini adalah keturunan thoroughbred, hasil perkawinan silang antara betina Inggris dengan pejantan tangguh asalArab, Barbary (Afrika Utara) dan Turki pada abad ke-17.
Untuk menyesuaikan dengan karakteristik lingkungan lokal, kuda-kuda tersebut kemudian dikawinkan dengan kuda asli Indonesia guna menciptakan performa yang maksimal di lintasan pacu nasional.
Konsistensi dalam menjaga kualitas genetik ini terbukti telah berlangsung selama puluhan tahun, di mana saat ini Indonesia tercatat telah memasuki generasi kesembilan pengembangan kuda pacu.

Dalam diskusinya, Eddy juga menjelaskan bahwa sistem kompetisi pacuan kuda di Indonesia saat ini terbagi menjadi dua kategori utama, yakni pacu prestasi yang mengedepankan standar kompetensi ketat dari thoroughbred dan turunannya dengan kelas usia dan tinggi kuda, dan pacu tradisional yang bebas menggunakan kuda turunan thoroughbred ataupun kuda lokal murni dengan pembagian kelas berdasarkan tinggi kuda saja.
Federasi Nasional Pordasi Pacu bertekad memajukan olahraga Pacu Kuda untuk menghidupkan industri peternakan, ekonomi kerakyatan melalui UMKM dan pariwisata. Lihat saja antusias 120.000 penonton Pacu Kuda pada PON XXI yang dilangsungkan di Takengon, Aceh Tengah.
Federasi Nasional Pordasi Equestrian

FN Pordasi Equestrian terus memperkuat sistem pembinaan dan profesionalisme organisasi guna meningkatkan daya saing atlet di tingkat nasional maupun internasional. Langkah ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam membangun peningkatan prestasi.
Equestrian memiliki empat disiplin utama, yaitu show jumping, dressage, eventing, dan endurance. Keempat disiplin tersebut merupakan cabang olahraga Olimpiade yang menuntut kesiapan teknis, kekuatan fisik, serta sinergi optimal antara atlet dan kuda.

Ketua Umum (Ketum) FN Pordasi Equestrian Dewi Larasati atau Tike, menegaskan bahwa dalam olahraga ini manusia dan kuda sama-sama diposisikan sebagai atlet.
“Di dalam olahraga ini, manusia dan kuda, dua-duanya adalah atlet. Jadi keduanya harus dipersiapkan secara maksimal melalui latihan yang intensif dan berkelanjutan,” ujar Tike.
Saat ini, Equestrian telah memiliki sekitar 13 Pengurus Provinsi yang aktif menjalankan program pembinaan. Pelatihan tidak hanya difokuskan pada atlet dan kuda, tetapi juga pada peningkatan kapasitas perangkat pertandingan seperti judges dan steward guna memastikan standar kompetisi tetap terjaga.
Lebih lanjut, Tike menyampaikan bahwa equestrian tengah melakukan persiapan serius menuju PON XXII/2028. Pada ajang tersebut, cabang olahraga berkuda direncanakan menggunakan fasilitas di Jakarta International Equestrian Park Pulomas sebagai venue pertandingan dalam skema provinsi penyangga. Meski sebagian pertandingan digelar di Jakarta, penyelenggaraan tetap mengusung nama resmi PON XXII/2028 NTT-NTB.
“Saat ini kami fokus melakukan pembinaan dan peningkatan kualitas atlet serta kuda sebagai bagian dari persiapan menuju PON XXII/2028 NTT-NTB. Pembinaan dilakukan secara berkesinambungan di daerah agar kesiapan atlet tetap terjaga,” tambahnya.
Dengan penguatan organisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta sistem pembinaan yang terstruktur, Equestrian optimistis dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan bagi prestasi olahraga nasional.
Federasi Nasional Pordasi Polo

FN Pordasi Polo Indonesia menegaskan komitmennya dalam membangun olahraga polo sebagai bagian dari ekosistem olahraga berkuda nasional yang terintegrasi, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi tinggi.
Hendra menekankan bahwa pengembangan polo tidak lagi hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem menyeluruh yang mencakup pembinaan atlet, penguatan kualitas kuda lokal, pengembangan industri pendukung, serta integrasi dengan sektor pariwisata.
Menurutnya, polo di Indonesia memang masih dalam tahap pertumbuhan. Namun justru di fase inilah fondasi yang kuat harus dibangun.
“Kami tidak hanya membentuk tim untuk bertanding. Kami membangun ekosistem. Mulai dari breeding dan pengembangan kuda lokal, pelatihan atlet, pelatih, groom, hingga menciptakan model kompetisi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Federasi Nasional Pordasi Polo mendorong peningkatan kualitas kuda lokal agar mampu memenuhi standar pertandingan arena polo. Strategi ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi peternak dan pelaku industri kuda dalam negeri.

Hendra juga menegaskan bahwa polo memiliki potensi besar sebagai motor sport tourism Indonesia. Karakter olahraga ini yang eksklusif, atraktif, dan visual menjadikannya sangat potensial dikemas sebagai destinasi event internasional.
“Banyak pemain mancanegara tertarik bermain di Indonesia. Dengan lanskap alam, pantai, hingga kawasan urban premium, kita memiliki positioning yang sangat kuat untuk mengembangkan polo sebagai sport tourism sekaligus sport diplomacy,” jelasnya.
Konsep arena polo yang fleksibel termasuk kemungkinan digelar di kawasan pantai atau ruang urban membuka peluang diferensiasi yang tidak dimiliki banyak negara.
Dalam konteks pembinaan nasional, Federasi Nasional Polo Indonesia tengah mempersiapkan eksebisi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) sebagai pintu masuk penguatan legitimasi cabang olahraga ini di tingkat nasional.
Pembinaan dilakukan secara berjenjang dengan pendekatan talent scouting, pengembangan chemistry atlet dan kuda, serta sistem kompetisi arena yang lebih dinamis dan mudah diakses publik.
“Membangun polo memang membutuhkan proses. Chemistry antara atlet dan kuda adalah faktor kunci. Karena itu pembinaan harus sistematis dan jangka panjang,” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, federasi optimistis polo dapat berkembang dari olahraga komunitas menjadi cabang olahraga prestasi yang profesional dan memiliki model bisnis berkelanjutan.
Lebih jauh, pengembangan polo dinilai memiliki nilai strategis sebagai instrumen diplomasi olahraga. Kolaborasi dengan federasi luar negeri, pelatihan bersama, serta partisipasi dalam event internasional menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Federasi Nasional Polo Indonesia juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta untuk memperkuat industri pendukung, mulai dari perlengkapan, manajemen event, hingga pengelolaan venue.
“Polo bukan hanya olahraga. Ini adalah ekosistem industri, pariwisata, dan diplomasi yang memiliki dampak ekonomi nyata bagi daerah,” tutup Hendra.
Dengan arah strategis tersebut, Federasi Nasional Polo Indonesia optimistis dapat menjadikan polo sebagai salah satu kekuatan baru dalam olahraga berkuda nasional sekaligus platform sport tourism Indonesia di kancah global.


