Paralayang Sky Lancing, Pengalaman Sport Tourism Menuju PON XXII/2028 NTT-NTB

Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak hanya menawarkan keindahan alam yang eksotis. Beragam atraksi wisata yang memacu adrenalin juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Lombok.

Sky Lancing merupakan salah satu lokasi wisata paralayang tandem yang menawarkan pengalaman terbang dengan didampingi pilot berlisensi dan profesional. Lokasi take off berada di ketinggian sekitar 180 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan panorama perbukitan yang memanjang ke arah barat.

Menikmati suasana alam yang indah selepas melakukan aktivitas olahraga merupakan konsep Sport Tourism yang digencarkan KONI Pusat. Terlebih Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 NTT-NTB adalah PON Sport Tourism. Sederhananya, rombongan dari Timor Leste mencoba apa yang akan didapatkan peserta PON XXII/2028 NTT-NTB.

Hal tersebut dirasakan rombongan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA), serta delegasi Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL) pada hari terakhir kunjungannya di Lombok, rombongan mencoba pengalaman terbang menggunakan paralayang tandem di Sky Lancing, Dusun Lancing.

Salah satu pilot paralayang sekaligus atlet paralayang berasal dari Jawa Barat, Jabi, mengatakan dirinya telah menekuni olahraga tersebut sejak 2010. Pengalamannya selama bertahun-tahun membuat dirinya terbiasa mengendalikan rasa takut ketika terbang.

Menurutnya, rasa takut ketika pertama kali mencoba paralayang merupakan hal yang wajar. Namun, seiring pengalaman, rasa takut tersebut dapat dikendalikan.

“Jujur sebenarnya rasa takut itu ada. Cuma terkontrol. Karena mungkin kita sudah terbiasa, jadi rasa takut itu hilang dengan sendirinya. Kita lebih bisa mengendalikan,” ujarnya.

Ia mengatakan, keberadaan Sky Lancing juga mulai dikenal wisatawan melalui media sosial, terutama Instagram dan YouTube. Wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara tertarik karena lokasi tersebut masih menawarkan suasana alam yang relatif alami.

“Mereka kebanyakan amazed dan senang. Mereka tahu tempat ini karena masih natural, masih belajar, dan masih enak untuk dikunjungi,” katanya.

Selain menjadi destinasi wisata, aktivitas paralayang di kawasan tersebut juga menjadi ruang untuk mencari dan mengembangkan atlet baru dalam mempersiapkan penyelenggaraan PON XXII/2028 NTT-NTB.

Yara merupakan atlet paralayang NTB, mengaku mengetahui aktivitas paralayang di Sky Lancing dari teman-temannya. Ketertarikannya kemudian membawanya untuk ikut mencoba dan menekuni olahraga tersebut.

“Saya tahu info dari teman-teman. Kebetulan di sini sedang mencari atlet, dan saya juga tertarik, jadi ikut,” ujarnya.

Yara mengaku baru mulai mengikuti olahraga paralayang pada 2025. Awalnya, ia hanya mendapatkan informasi dari teman mengenai adanya kesempatan untuk bergabung dan berlatih.

“Saya baru ikut sebenarnya kemarin, 2025. Tahunya dari teman, ada informasi di sini sedang cari atlet. Kebetulan saya juga tertarik, jadi ikut,” katanya.

Sementara itu, pengalaman berbeda dirasakan Amaral Gaspar, salah satu dosen dari UNTL. Ia mengaku terkesan dengan keindahan kawasan Sky Lancing sekaligus penasaran untuk mencoba paralayang tandem.

“Iya, bagi saya luar biasa. Mataram ini punya tempat wisata yang istimewa sekali buat saya. Tadi dari jalan ke sini saya lihat Sky Lancing, jadi penasaran,” ungkapnya.

“Jadi asyik, bagus sekali buat saya. Ini adalah kesempatan yang luar biasa. Terima kasih sekali kepada masyarakat di sini, di Mataram, sampai di tempat Sky Lancing,” katanya.

Hal serupa disampaikan Elvina Fernandes. Delegasi UNTL tersebut mengaku sempat merasa takut ketika pertama kali akan melakukan penerbangan. Namun, setelah berada di udara, rasa takutnya perlahan hilang dan berganti dengan rasa senang.

“Pertama kali takut, rasa takut itu ada. Tapi pas sudah naik, senang. Sudah tidak ada rasa takut lagi,” ujarnya.

“Senang banget. Saya pernah melihat olahraga seperti ini, tapi tidak pernah naik. Ini pertama kali bagi saya,” katanya.
Kabid Media dan Humas KONI Pusat, Tirto Prima Putra, mengatakan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Timor-Leste. Menurutnya, olahraga tidak hanya berkaitan dengan kebugaran dan prestasi, tetapi juga dapat menjadi sarana diplomasi antarkedua negara.
“KONI Pusat melihat bahwa olahraga bukan sekadar kegiatan fisik yang berhubungan dengan prestasi. Kini kami mengembangkan Sport Diplomacy dengan Timor Leste, bahwa melalui olahraga kita dapat mempererat hubungan antar negara,”ujarnya

“Kali ini, KONI Pusat mengajak saudara kita dari Timor Leste berkunjung ke lokasi Sport Tourism, Sky Lancing. Seusai berlatih dan bertanding, mereka dapat terbang tinggi dengan paralayang,” katanya

“Mereka delegasi Timor Leste senang sekali mencoba, ditambah kesempatan ini menjadi yang pertama kali bagi mereka. Mereka senang dan mengenang Indonesia karena keindahan alam disertai kehangatan masyarakatnya,”tutupnya

author avatar
Media dan Humas KONI Pusat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *